Beranda Nasional Prabowo Akan Turunkan Pajak Penghasilan dan Naikkan Tax Ratio

Prabowo Akan Turunkan Pajak Penghasilan dan Naikkan Tax Ratio

72
0
BERBAGI

Prabowo Subianto.  calon presiden nomor urut 02 akan menentukan langkah untuk menaikkan tax ratio menjadi 16%. Dan sekaligus menurunkan Pajak Penghasilan semua WNI. Strategi tersebut akan ditempuh Prabowo, karena ia telah memiliki perhitungan. Prabowo juga telah memiliki rencana matang untuk mewujudkan hal tersebut.

Dradjad Wibowo, Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN menerangkan, bahwa  Prabowo-Sandi akan menggunakan strategi yang diterapkan di Rusia dan Amerika Serikat (AS) dalam meningkatkan tax ratio

“Oleh sebab itu, kita harus berani mengambil langkah terobosan dalam menaikkan basis pajak. Langkah pertama yang ditempuh adalah memanfaatkan Kurva Laffer,” ujar Drajad ketika diwawancara oleh wartawan kami, Jakarta, Jumat (18/1/2019).

Drajad memaparkan, Arthur B. Laffer, ekonom Amerika Serikat yang pernah menjadi anggota Economic Policy Advisory Board dari Presiden Ronald Reagan. adalah orang yang memperkenalkan pertama kali strategi yang akan digunakan oleh Prabowo dan Sandiaga.

Dalam perhitungan, penerimaan perpajakan adalah 0 pada saat tarif 0%, lalu naik menuju penerimaan pajak maksimum pada tarif optimal tertentu, kemudian turun lagi menuju 0 pada tarif 100%.

Drajad mengaku, dengan melakukan hal tersebut, di Indonesia dalam meningkatkan tax ratio sangat bisa menerapkan strategi kurva laffer. Hal ini disebabkan terdapat lima alasan, mengapa langkah trsebut dapa diterapkan di Indonesia

Hal pertama, hal ini disebabkan masih banyak dilakukan pemindahan keuntungan dari Indonesia ke negara yang memiliki tarif pajak lebih rendah atau dikenal dengan istilah profit shifting. Hal ini menyebabkan basis pajak masih rendah. Hal kedua, Tarif pajak yang sangat tinggi saat ini, menyebabkan para wajib pajak memilih untuk  ber-KKN daripada bayar pajak.

Hal selanjutnya, kampanye kesadaran pajak bisa lebih efektif, dengan memberlakukan tarif yang rendah. Orang atau badan yang mampu tapi malas membayar pajak akan malu dengan kampanye, dengan penegakan aturan perpajakan yang baru

Hal keempat, berbeda dengan negara-negara tetangga Indonesia yang tarifnya rendah namun tax rationya tinggi, negara kita memiliki tarif pajak yang relatif kurang kompetitif, yang dapat membuat tax ratio masih rendah,

Hal yang kelima, dengan menurunkan tarif pajak dalam nilai tertentu, maka dapat memicu pertumbuhan menjadi 6% atau malah lebih. Hal ini diharapkan dapat membuat kue yang bisa dipajaki melalui PPh, PPN, pajak perdagangan, PBB, bea dan cukai akabn jauh lebih cepat bertambah.

Disamping ke lima hal tersebut, agar masyarakat nyaman masuk ke sistem pajak., maka diperlukan juga penyederhanaan ketentuan umum dan prosedur perpajakan. Hal yang tidak kalh penting, bahwa Indonesia perlu penguatan SDM pajak dan pengawasan internal, sehingga intelijen dan pemeriksaan pajak bisa lebih efektif.

Hal lain yang menjadi pertimbangan, ia juga merasa bahwa di daerah yang rawan, Indonesia memerlukan perlindungan fisik terhadap aparat pajak. Selain itu, pemerintah juga harus dapat mengefektifkan obyek pajak, termasuk dalam PBB.

“Itu alasan logisnya. Tentu tidak cukup hanya mengandalkan Kurva Laffer saja. Perlu penerapan teknologi informasi secara masif di seluruh Indonesia sehingga lubang pajak bisa dikurangi. Perlu penegakan hukum yang tegas terhadap kasus yang inkracht, karena ada tagihan puluhan triliun di sini,” kata Drajad melanjutkan

Strategi ekonomi yang ditawarkan prabowo-sandiaga uno adalah menaikkan Tax Ratio pajak dan menurunkan besaran pajak penghasilan, hal ini akan mencegah larinya modal ke luar negeri dan memutus praktek kolusi oknum pajak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here