Beranda Nasional Prabowo Diserang isu HAM, Padahal 2009 Jadi Cawapres Kubu Sebelah

Prabowo Diserang isu HAM, Padahal 2009 Jadi Cawapres Kubu Sebelah

60
0
BERBAGI

Heri Budianto, Juru Bicara Partai Gerindra, yakin  isu penculikan pada 1998 yang dilekatkan pada diri Prabowo Subianto, tidak akan memberikan pengaruh besar dalam ajang pemilihan presiden, yang akan diselenggarakan pada 2019 mendatang. Hal tersebut dinyatakan oleh Heri Budianto sebagai tanggapan atas bahan debat calon presiden, yang bertemakan Hak Azasi Manusia. Prabowo kerap diserang dengan isu HAM di masa lampau, padahal tahun 2009 ia sudah menjadi cawapres Megawati sukarnoputri, Ketua Umum PDIP.

Dalam penilaian Heri, cerita lama yang tidak jelas sumbernya tersebut, sengaja ditiupkan . “Kalau kita bicara hukum, kan harus ada fakta hukum. Saya kira, sudahlah membangun narasi-narasi seperti itu. Enggak akan laku di masyarakat isu seperti itu,” ujar Heri saat diwawancara wartawan kami, di Kompleks DPR RI, Jakarta pada hari Jumat, tanggal 21 Desember 2018.

Dalam pandangan Heri, bila Prabowo memang terbukti bersalah, maka ia tidak akan bisa maju berkkali-kali dalam pemilihan presiden Indonesia. “Saya kira kasus ini sudah clear dan masyarakat sudah cerdas memilah mana yang benar dan tidak,” tutur Heri, yang merupakan juga bekas Direktur Eksekutif Polcomm Institute itu.

Wacana kasus penculikkan yang terjadi pada tahun 1998, yang juga mengaitkan nama calon presiden dengan nomor urut 02, Prabowo Subianto selalu muncul ke permukaan,terutama saat menjelang pemilihan presiden tahun 2019 mendatang. Pada ajang pemilihan presiden pada tahun 2014 yang lalu, wacana ini juga sengaja digelontorkan. Ditambah lagi, beredar dokumen rahasia Surat Dewan Kehormatan Perwira (DKP), yang berhubungan dengan pemberhentian Letnan Jenderal Prabowo Subianto pada tahun 1998

Isu itu semakin kencang ketika Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi membenarkan isi  surat keputusan Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang beredar luas di sosial media dalam sebuah wawancara di stasiun Tv  swasta pada 2014 s ilam. Saat itu, Fachrul juga mengungkit bahwa Prabowo kurang pantas menjadi RI-1 karena rekam jejak mantan Danjen Kopassus itu di militer.

Fachrul menyatakan, bahwa ia tidak akan menggunakan hal yang sama tersebut untuk menarik perhatian masyarakat, menjelang pemilihan presiden 2019 ini. “Dulu bapak pernah sampaikan itu sekali saja. Setelah itu enggak pernah lagi. Kalau kemudian orang mengulang-ulang lagi, selama tidak dilarang KPU, ya silakan saja,” tutur Fachrul, selaku Ketua Tim Bravo-5 (Tim purnawirawan pemenangan Jokowi) pada wartawan kami, yang dikutip pada bulan Oktober lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here