Beranda Ekonomi PRABOWO SUBIANTO: INDIKATOR KEMISKINAN BPS TIDAK SESUAI KONDISI DI LAPANGAN

PRABOWO SUBIANTO: INDIKATOR KEMISKINAN BPS TIDAK SESUAI KONDISI DI LAPANGAN

59
0
BERBAGI
PRABOWO SUBIANTO: INDIKATOR KEMISKINAN BPS TIDAK SESUAI KONDISI DI LAPANGAN

“Ada 69 juta rakyat miskin menurut data BPS,” ucap Prabowo Subianto dalam diskusi yang ditayangkan oleh DIGDAYA TV lewat kanal Facebook.

Sambil membaca data, Prabowo menyebutkan bahwa, “BPS sebagai badan pemerintah membuat indikator yang mengklasifikasikan bahwa seseorang masuk kategori miskin jika penghasilan dalam satu bulan sebesar Rp 387.000 atau setara dengan 12.000 sehari. Dan kategori hampir miskin adalah mereka dengan penghasilan Rp 19.000 per hari.”

“Harga 1 kilo beras mungkin di kisaran Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per kg. Setengah dari penghasilan harian rakyat kategori hampir miskin (Rp 19.000/hari) sudah terpakai untuk beli beras. Apalagi bagi masyarakat miskin (Rp 12.000/per hari). Belum ditambah dengan beli lauk, listrik, biaya tempat tinggal, dan kebutuhan lain,” lanjut Prabowo menjelaskan dengan hitung-hitungan sederhana.

PRABOWO SUBIANTO: INDIKATOR KEMISKINAN BPS TIDAK SESUAI KONDISI DI LAPANGAN

“Rakyat miskin adalah tanggung jawab pemerintah karena mereka punya hak dan wewenang untuk menyejahterakan masyarakat. Tugas saya sebagai orang sebagai yang di luar pemerintahan adalah untuk mengingatkan dan menyampaikan. Jika ada yang keliru dalam penyampaian saya, maka mohon dibantah namun dengan cara yang ilmiah,” lanjut Prabowo.

Data indikator kemiskinan menurut BPS adalah alat ukur untuk menentukan jumlah masyarakat miskin. Yang jadi pertanyaan bagi Prabowo bahwa indikator kemiskinan itu tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

Apakah rekan pembaca sekalian sependapat Prabowo Subianto?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here